Showing posts with label Energi. Show all posts
Showing posts with label Energi. Show all posts

Monday, September 10, 2012

Indonesia akan bagun pusat nuklir di Kalbar?

Ilustrasi
Banjarmasin - Pemerintah pusat mewacanakan untuk membangun pusat nuklir di Provinsi Kalimantan Barat karena di daerah tersebut ditemukan sumber daya alam uranium yang cukup besar.

Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin yang juga ketua Forum Percepatan Pembangunan dan Revitalisasi Kalimantan di Banjarmasin, Senin mengatakan, beberapa waktu lalu dia bersama dengan perwakilan Gubernur wilayah Kalimantan melakukan pertemuan dengan beberapa kementerian antara lain, Kementerian Ekonomi, ESDM dan terkait lainnya.

Salah satu hasil pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah rencana pembangunan pusat pengembangan nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dan sumber energi lainnya.

"Kalimantan adalah wilayah cukup kaya, bukan hanya tambang batu bara, emas dan lainnya tetapi juga uranium di Kalbar," katanya.

Karena bahan baku utama energi nuklir tersebut banyak di temukan di Kalbar, sehingga diwacanakan untuk mengembangkan energi tersebut untuk pembangunan pemenuhan energi masa depan Kalimantan.

Rencana tersebut, kata dia, juga menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang kini masih kurang, sehingga pelaksanaan MP3EI serta Permen ESDM tentang larangan bahan baku energi keluar dari Indonesia bisa segera diwujudkan.

"Kami sangat berharap berbagai infrastruktur, jalan, jembatan dan bandara udara, pelabuhan laut dan energi di wilayah Kalimantan bisa diselesaikan pada 2014," katanya.





Tanpa dukungan infrastruktur dan energi yang memadai, tambah dia, pelaksanaan MP3EI dan Permen ESDM tersebut akan sulit untuk direalisasikan.

Apalagi, kata dia, beberapa negara importir tambang seperti Jepang, China, dan beberapa negara lainnya, kini sudah mulai mengurangi permintaan karena ditemukannya gas yang cukup besar di Amerika dan Australia.

Kondisi tersebut, kata dia, dikhawatirkan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah, walaupun kini tambang bukan lagi satu-satunya tumpuan perekonomian Kalsel.

"Kedepan kita akan mengembangkan sektor perekonomian dalam arti luas, selain juga mendorong tumbuhnya investasi terutama industri skala besar," katanya.

Kini, tambah Gubernur, yang sudah siap untuk beroperasi adalah tiga perusahaan bijih besi di Kabupatan Tanah Laut dan Tanah Bumbu, sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan MP3EI.

Saturday, September 1, 2012

Dahlan Iskan Lirik Teknologi Nuklir untuk Indonesia

http://image.tempointeraktif.com/?id=123353&width=200Yogyakarta - Masih menggebu-gebu dengan teknologi kendaraan berenergi listrik, Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan menyatakan ketertarikannya dalam pengembangan teknologi nuklir.

Saat menjadi pembicara di sela Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) Fakultas Tehnik dan Fakultas Geografi UGM Jumat, 31 Agustus 2012, Dahlan mengatakan tertarik dengan jurusan teknik nuklir di Fakultas Teknik UGM yang sudah ada sejak akhir 1970-an.

Saking antusiasnya, bos Jawa Pos Grup ini sempat menyuruh mahasiswa baru jurusan teknik nuklir untuk berdiri supaya dia bisa menhitung jumlahnya.

"Kita sudah punya ratusan sarjana teknik nuklir, tapi belum punya teknologi nuklir yang bermanfaat untuk kebutuhan nasional," kata Dahlan.





Menurut dia, mahasiswa baru di jurusan teknik nuklir merupakan harapan Indonesia agar bisa memenuhi kebutuhan energi nasional.

Dahlan melanjutkan, dosen Teknik Nuklir UGM yang sekarang menjabat Direktur Batan Teknologi, Yudiutomo Imardjoko telah menemukan teknik pengayaan uranium sistem rendah yang hanya dimiliki Indonesia.

Teknik ini, kata Dahlan, berguna untuk produksi radio isotop dan dipakai untuk kebutuhan selain pembuatan senjata. "Nuklir adalah masa depan Indonesia untuk kebutuhan listrik dan kemandirian energi," ujar dia.

(Tempo.Co)

Thursday, August 23, 2012

Menristek terus cari energi Alternatif selain BBM

H. Gusti Muhammad Hatta. (ANTARA)
Banjarmasin - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), H. Gusti Muhammad Hatta, menyatakan bahwa pihaknya bersama jajaran dan lembaga terkait terus berupaya mencari alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM).

"Pasalnya, BBM yang berasal dari minyak dan gas bumi Indonesia kemungkinan tinggal 20 tahun lagi akan habis," ujarnya saat silaturrahim Idul Fitri 1433 Hijriah, dengan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) di Banjarmasin, Rabu.

Oleh sebab itu, ia mengemukakan, salah satu alternatif pengganti BBM dari minyak dan gas bumi tersebut berupa pembuatan biodiesel dengan bahan baku kelapa sawit.

Sebagai contoh, beberapa tahun lalu dibangun pabrik biodiesel di Kotabaru, kabupaten paling timur Kalsel yang memiliki sumber daya perkebunan kelapa sawit, ungkap mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg LH) tersebut.

Namun, pria urang banua (orang Kalimantan Selatan) tersebut menyatakan, lupa kapasitas pabrik biodiesel Kotabaru itu, dan tetap berharap keberadaan pabrik tersebut dapat membantu nelayan setempat akan kebutuhan bakar mereka melaut.





Kecuali itu, ia sekaligus menyayangkan belum operasionalnya pabrik biodiesel di wilayah yang disebut "Bumi Sa-ijaan" Kotabaru tersebut, padahal proyeknya menghabiskan biaya miliaran rupiah.

Ia mengaku, belum mengetahui penyebab belum operasionalnya pabrik biodiesel di Kotabaru tersebut, apakah karena faktor teknis atau persoalan lain.

"Dalam waktu segera kita akan cari tahu penyebab pabrik beodiesel tersebut belum operasional sampai saat ini, dan akan berusaha membantu mencarikan solusi, sehingga keberadaan proyek itu tidak mubazir," demikian Gusti Muhammad Hatta.

Hatta bersama istrinya berada Banjarmasin dalam rangkaian belebaran bersama keluarga, dan mengikuti sejumlah undangan layaknya bersama IKA Unlam.

Pengurus IKA Unlam dalam kesempatan itu Ketua Pengarah IKA Unlam, H. Gusti Rusdi Effendi AR, yang juga Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group, memasangkan jaket almamater warna kuning kepada Gusti Muhammad Hatta bersama Ny Violet Gusti Hatta.(*)

Tuesday, July 31, 2012

Inilah Alasan Kenapa Mobil Listrik Lebih Hemat

 Di tempat parkir tersedia tempat pengisian listrik.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/07/16/163493_mobil-listrik-ahmadi_209_157.jpgVIVanews - Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudi, mengklaim bahwa penggunaan mobil listrik mengkonsumsi listrik lebih hemat dibandingkan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Nur Pamudji menjelaskan, PLN akan mengenakan tarif non subsidi bagi mobil listrik yaitu sebesar Rp1.200 per Kwh. Dengan tarif itu, mobil listrik tetap 1/4 lebih hemat jika dibandingkan mobil berbahan bakar minyak.

"Perbandingannya kira-kira 1:4 savingnya, padahal tarif listriknya tidak bersubsidi," kata Nur Pamudji, Senin, 30 Juli 2012.

Ia menjelaskan dalam satu kali isi ulang mobil listrik hanya akan membutuhkan Rp25.200, dan mobil dapat menempuh perjalanan hingga 150 kilometer. Sedangkan mobil berbahan bakar bensin membutuhkan Rp100.000 untuk jalan sejauh 150 km.






Selain itu, Ia menjelaskan dalam situasi lalu lintas yang macet maka mobil listrik lebih diuntungkan karena selama mobil diam listrik akan disimpan dalam baterei. "Kalau macet maka tidak akan ada listrik yang terbuang," katanya.

Pada mobil listrik, seluruh listrik yang keluar 90 persennya akan menjadi energi penggerak dan tidak akan ada panas yang terbuang. Sedangkan mobil yang menggunakan bensin, hanya 30 persen yang menjadi energi penggerak, 70 persen sisanya terbuang percuma salah satunya menjadi polusi udara.

PLN sendiri per Agustus 2012 mendatang akan mulai membangun 10 Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) di Jakarta dengan investasi sebesar Rp10 juta per alat pengisi ulang. "Investasi tersebut diluar lahan," katanya.

Untuk lahan, PLN akan bekerja sama dengan pusat perbelanjaan dan perkantoran untuk tempat parkir khusus mobil listrik. Nantinya di tempat parkir tersebut tersedia tempat pengisian listrik.

Selain itu, PLN akan mulai merambah kota Bandung. Sepanjang jalan tol Jakarta-Bandung, tempat-tempat rest area akan disediakan SPLU. "Konsepnya pengguna mobil listrik istirahat di rest area, makan selama 30 menit, sambil mobil listriknya dicharge," katanya. (adi)

© VIVA.co.id

Sunday, July 15, 2012

Mikroalga, sumber energi masa depan

Jakarta - Selama ini mikroalga hanya dimanfaatkan sebagai pakan larva ikan pada proses budidaya, namun siapa sangka bila mikroalga juga berpeluang menjadi bahan baku bioetanol dan biodiesel--sumber energi penting pada masa depan.

Mikroalga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku biofuel karena pemanfaatan mikroalga tidak bersaing dengan pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Selain itu, mikroalga mengandung karbohidrat--kandungan penting yang dibutuhkan untuk menghasilkan bioetanol.

Kandungan karbohidrat pada mikroalga berkisar 5-67,9 persen dan diperkirakan dapat menghasilkan bioetanol sekitar 38 persen, demikian kata Luthfi Assadad, peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP).





Dalam publikasi Applied Energy edisi 86 tahun 2009, bioetanol bisa dibuat dari tiga sumber utama: bahan yang mengandung sukrosa (tebu, gula, bit, sorgum, dan buah), pati (jagung, gandum, padi-padian, kentang, ubi kayu), serta biomassa yang mengandung lignoselulosa (kayu, jerami, rerumputan).

Karbohidrat pada mikroalga berbeda-beda tergantung spesies dan kondisi lingkungan hidupnya, demikian ditulis dalam publikasi Squalen, Buletin Pascapanen Bioteknologi Kelautan dan Perikanan tahun 2008. Dan di mikroalga, karbohidrat terletak di dinding sel dan sitoplasma.

Penggunaan mikroalga sebagai bahan baku biofuel mempunyai beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan tanaman pangan:

1. Pertumbuhan yang cepat
2. Produktivitas tinggi--gandum hasilkan 2.500 liter/hektar, jagung 3.500 liter/hektar, tebu 6.000 liter/hektar, mikroalga sekitar 20.000 liter/hektar.
3. Dapat menggunakan air tawar dan air laut
4. Tidak berkompetisi dengan produksi bahan pangan
5. Konsumsi air yang rendah dan biaya produksi yang tidak terlalu tinggi.
(E012)

Sumber : Antara

Tuesday, June 26, 2012

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah ala Bambang Sudarmanta

PERNYATAAN bahwa sampah yang selama ini menjadi permasalahan rumit dan meresahkan warga perkotaan karena bau dan kotor, ternyata tidak selamanya benar.

Di Surabaya, justru sampah berhasil menciptakan pembangkit listrik bertenaga sampah. Hasil pengolahan listrik dari sampah tersebut rencananya akan dipergunakan untuk penerangan di lingkungan kampus ITS.

Bambang Sudarmanta, dosen teknik mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS Surabaya) itu adalah sang pencetus ide. Guna mewujudkan itu, sehari-hari waktunya dihabiskan  dalam rumah kompos kampus ITS Surabaya.

Ide membuat energi listrik dari sampah ini, bermula dari banyaknya sampah yang menumpuk di sekitar kampus ITS, seperti bekas makanan para mahasiswa, serta sampah organik dedaunan di area kampus ITS.

Melihat kondisi itu, dosen bergelar doktor itu, tercetus ide untuk membuat pembangkit listrik bertenaga sampah, agar lingkungan di kampus ITS tetap bersih, bebas dari sampah.

 Proses pengerjaan

Bambang menjelaskan lebih jauh bagaimana proses pengerjaannya. Menurutnya, proses pengolahan sampah untuk menjadi energi listrik sendiri melalui program pengolahan sampah di ITS akan dilakukan dengan tiga cara, yakni pembakaran, gasifikasi dan fermentasi.

Pada proses pembakaran, hingga mencapai 600 bar, sampah yang telah dipilah akan dikelompokan dalam beberapa kategori. Lalu,  panas dari pembakaran tersebut di alirkan ke turbin untuk menggerakan generator dan menghasilkan listrik. Kategori sampah anorganik yang tidak bernilai ekonomis akan dibakar dalam insenerator dan dimanfaatkan untuk memanaskan ketel.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan metode gasifikasi. Metode ini berbeda dengan metode sebelumnya karena tidak dilakukan pembakaran. Dalam metode ini, sampah yang berupa biomassa akan diubah menjadi synthetic gas yang kemudian akan dimurnikan kembali. Gas yang telah dimurnikan tersebut akan digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel atau mesin bensin.

Selain dua cara tersebut, Bambang dan timnya juga telah mengembangkan metode lain yakni metode fermentasi. Diakui olehnya, metode ini belum pernah diterapkan pada sampah.

Untuk 4 sampai 6 jam beroperasinya, alat pembangkit listrik tenaga sampah ini, dapat menghasilkan energi listrik sebesar 2 kilo watt dan listrik tersebut dapat langsung di gunakan dan juga bisa di simpan dalam baterai atau accu untuk penerangan malam hari.

"Banyak sampah yang menumpuk, kami bakar kemudian panasnya di alirkan untuk menggerakkan generator, " kata Bambang Sudarmanta, pembuat pembangkit listrik dari sampah.

Rencana ke depan, listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga sampah ITS ini, akan digunakan untuk sumber eergi penerbangan lampu dikawasan kampus ITS.

****
Alat pembangkit listrik tenaga sampah, karya Bambang ini, telah menelan biaya hingga sekira Rp200 juta dan diharapkan menjadi contoh bagi beberapa daerah yang masih krisis listrik.

Ia menyakini bahwa cara ini juga bisa menjadi alternatif. Ia menyebutkan, beberapa waktu yang lalu cara ini telah berhasil mengubah kotoran sapi menjadi bahan bahar untuk mesin bensin dan diesel.

Untuk mensukseskan program ini, Bambang juga dibantu oleh Ikatan Alumni (IKA) ITS dalam pengadaan alat. “Tidak semua alat bisa dibeli oleh ITS. Syukurnya, alumni juga mau ikut membantu,” tutup Bambang, seperti dikutip situs resmi ITS.(amr)


Okezone

Saturday, June 23, 2012

ITS Operasikan Pembangkit Listri Berbahan Bakar Sampah

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meluncurkan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dalam perhelatan "Gugur Gunung" tahap 3 (G2.3) di kampus setempat, Jumat (22/6). Pelaksanaan kegiatan yang merupakan rangkaian program "Eco Campus" tersebut digelar secara serentak di semua unit, jurusan, dan biro di lingkungan ITS.

Gugur Gunung 1 (G2.1) diselenggarakan untuk mengukuhkan kampus ITS sebagai daerah yang berbasis eco-campus. Sementara G2.2 difokuskan pada bersih-bersih di tiap unit dan jurusan, disertai penanaman pohon juga agar menjadi kebiasaan dan ITS menjadi sadar budaya eco-campus.

"Untuk G2.3 kali ini juga melanjutkan kegiatan pada tahap-tahap sebelumnya yang diharapkan semakin menegaskan budaya eco-campus bagi seluruh warga ITS," tutur ketua pelaksana G2.3, Tatas, ST, MT.

Menurut dia, G2.3 juga difokuskan pada biodiversity, yaitu program konservasi atau perlindungan satwa burung di kampus ITS, sehingga kawasan ITS nantinya bisa menjadi rumah bagi burung-burung liar tersebut.

"Kalau burung-burung tersebut mendapat rumah yang nyaman dan aman, tentunya bisa membantu perkembangbiakan mereka dengan baik, karena itu ada larangan penangkapan burung di area kampus ITS," katanya.

Selain penanaman pohon dan pelepasan ratusan burung merpati dan bondol, kegiatan itu juga diramaikan dengan uji emisi kendaraan di lingkungan ITS dan peluncuran PLTSa.

Bibit pohon yang ditanam kali ini sebanyak 830 pohon terdiri dari pohon matoa, sukun, mahoni, dan mangga, sedangkan PLTSa yang diluncurkan merupakan karya dosen Teknik Mesin ITS, Dr Bambang Sudarmanta ST MT.

"Nantinya, PLTSa ini akan digunakan mengolah sampah di sekitar kampus ITS agar menghasilkan energi listrik, lalu energi yang dihasilkan akan ditujukan untuk membantu penerangan jalan umum (PJU) di sekitar asrama mahasiswa," kata Bambang Sudarmanta.

Dosen D3 Teknik Sipil ITS itu menjelaskan peluncuran PLTSa ini diharapkan mampu mendukung tingginya kebutuhan listrik di ITS dan mampu membantu mengurangi limbah sampah di lingkungan ITS agar tidak menumpuk sia-sia.


Tuesday, June 19, 2012

Inilah Cara Mengolah Sampah Jadi Energi Listrik

Prof Dr Ir H Muhammad Hattah Fattah MS 

YUSRAN/FAJAR
SAMPAH biasa hanya berakhir dengan pembakaran dengan meyisahkan bau. Tahukah Anda sampah kini sudah bisa menghasilkan energi listrik.

JUMAT, 8 Juni siang lalu, gerimis tengah mengguyur Kota Makassar. Dengan sedikit tergesah-gesah saya memasuki sebuah ruangan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Tak lama menunggu, tiba-tiba muncul sosok lelaki dengan tampilan penuh wibawa. Yah, dialah Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI Makassar, Prof Muhammad Hattah Fattah. Di Sulsel, ia satu-satunya konsultan untuk penerapan teknologi pengolaan sampah dengan sistem incinerator.

Siang itu, dengan penuh semangat ia menceritakan teknologi pembakaran sampah tanpa sisa yang sudah dikembangkan di negara-negara Eropa seperti Prancis, Belanda dan negara lainnya. Selain tanpa sisa dan bau, uniknya hasil olahan sampah dengan teknologi incinerator ini bisa menghasilkan energi listrik.





"Kalau teknologi ini bisa dijalankan di Sulsel, maka di Indonesia daerah kita yang pertama menerapkannya," katanya.

Memang agak aneh, ahli perikanan dan ilmu kelautan kok bisa menjadi konsultan untuk pengolaan sampah. Ternyata itu semua berawal dari keikusertaanya pada Forum Perhutani Indonesia yang memang fokus memperhatikan masalah lingkungan hidup. Sehingga tak mengherankan kalau bapak empat anak itu ahli dalam sanitasi dan kelestarian lingkungan, termasuk pengolaan sampah.

Saat ini sampah masih menyisahkan masalah serius terutama di perkotaan. Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) permukiman penduduk, mencemari udara, tanah, air serta menjadi tempat berkembang biak binatang maupun bakteri pembawa penyakit.

Setelah berhari-hari menumpuk dan membusuk di TPS, sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Puluhan truk pengangkut sampah melewati jalan umum, menebarkan bau tidak sedap dan bisa menyebarkan penyakit. Di TPA sampah juga hanya dibiarkan menumpuk, menggunung, mencemari udara, mencemari air tanah dalam skala lebih luas.

Incinerator atau alat pembakaran sampah hadir sebagai solusi dari semua masalah yang ditimbulkan sampah tersebut.

"Kami sudah melakukan sosialiasi ke pemprov namun kami masih menunggu kepastian karena memang perlu pengkajian lebih dalam. Untuk saat ini, kami sudah mendapat signal positif dari Bupati Gowa yang sangat ingin menerapkan teknologi ini. Kebetulan bupati ternyata sudah dari China mengunjungi pabriknya langsung," papar Hattah.

Menurut Hattah, teknologi yang coba ditawarkan di Sulsel ini merupakan teknologi yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia oleh Solid Waste Menegement (SWT).

Memang untuk teknisnya, Hattah tidak begitu tahu namun untuk kajian dampak lingkunggan boleh dikata sudah tuntas. Ia menjelaskan, penerapan teknologi ini bisa memecahkan sejumlah persoalan lingkungan akibat sampah yang dihasilkan setiap harinya.

"Teknologi ini sangat ramah lingkungan. Selain itu, output yang dihasilkan pun sangat bermanfaat karena menghasilkan energi listrik yang sangat bermanfaat. Begitupun dengan ampas berupa klek yang bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan paving block. Bahkan di negara maju sudah dikembangkan menjadi aspal," jelasnya panjang lebar.

Dalam kondisi normal suhu pembakaran incinerator mencapai 900 derajat celcius yaitu suhu yang aman untuk memusnahkan sampah infeksius dan menyebabkan senyawa beracun dapat terurai pada sistem pembakaran sempurna. Serta emisi gas buang Incinerator jauh lebih baik dari standar baku mutu yang ditetapkan Lingkungan Hidup. (iad/aci)