Showing posts with label Indonesia Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Indonesia Teknologi. Show all posts

Sunday, September 16, 2012

Roket LAPAN RX 550 UNTUK IINDONESIA

Roket RX 550 LAPAN (Foto audrey)

Sadar akan kebutuhan peralatan pertahanan untuk menjaga kedaulatan, Indonesia mulai mencoba mandiri dalam pengadaan alat pertahanan strategis. Salah satunya adalah sistem pertahanan rudal peluru kendali jarak menengah dan jauh. Untuk mencapai kemandirian dalam teknologi rudal, bukanlah persoalan mudah. Karena tidak ada negara di dunia yang akan memberikan ilmu teknologi rudal ini.





Indonesia sudah mulai mencoba membuat rudal sejak jaman 60-an, dengan berbekal bantuan dari Rusia pada era Soekarno, Indonesia sempat membuat beberapa roket jarak pendek. Sayangnya program ini tidak berlanjut di masa Soeharto. Salah satu roket yang sempat membanggakan saat itu dinamakan roket Kartika.

Setelah merasakan embargo dari negara barat, Indonesia merasakan pahitnya, merupakan masa yang suram kedua, setelah dahulu Indonesia juga pernah merasakan kesulitan suku cadang dari Uni soviet karena politik yang berbeda pada saat itu. Hampir semua alutsista TNI menjadi lumpuh, karena kesulitan suku cadang dan telah uzurnya alutsista tersebut. Semenjak embargo tersebut, Indonesia berupaya segala cara untuk mendapatkan suku cadang maupun pengganti alutsista dengan melirik peralatan blok timur kembali.

Namun terlihat sekali, setiap Indonesia ingin membeli alutsista dan memodernisasinya, selalu menjadikan pertanyaan negara barat, sedangkan negara tetangga mempunyai alutsista yang modern dan canggih termasuk kualitas dan kuantitasnya tanpa banyak dipermasalahkan. Atas pelajaran tersebut yang tidak mungkin di lupakan bangsa ini, Indonesia kedepan harus mandiri, dan tidak ketergantungan dari negara lain.

Kembali menuju kemandirian untuk membuat rudal bukanlah mudah, perlu riset dan dana yang tidak bisa dibilang murah untuk pengembangannya, dan yang utama dari rudal adalah alat pengendali roket tersebut. Sampai sekarang Indonesia masih bermasalah dengan pengendali roket, sehingga mengajak China untuk membantu dengan join pembuatan rudal C-705 yang akan menjadi cikal bakal rudal nasional, karena akan di produksi di Indonesia dengan lisensi.

Dengan kerjasama tersebut, Indonesia tentunya beruntung, karena dapat belajar ilmu yang sangat berguna untuk membuat rudal sendiri ke depan, tentunya dengan riset dan pengembangan yang akan memakan waktu dan biaya.

RX 550 LAPAN

Roket RX 550 LAPAN berkemampuan jarak 500 km
Para ahli ilmuwan LAPAN telah berjanji dan terus berusaha membuat roket Indonesia yang bisa mengarungi ruang angkasa, serta peluru kendali jarak jauh. LAPAN memiliki rencana ambisius yang akan membanggakan bangsa dengan meluncurkan satelit buatan Indonesia ke ruang angkasa pada tahun 2014.

Untuk itu, LAPAN bekerjasama dengan pabrik baja Krakatau Steel, membuat diameter roket lebih besar dari RX 420. Krakatau Steel berhasil mengerjakannya dan terciptalah roket RX 550 (kaliber 550mm).

RX 550 merupakan komponen tingkat pertama dan kedua dari Roket Pengorbit Satelit yang memiliki panjang 8-10 meter. Saat ini roket RX 550 terus menjalani tahap revisi desain. Lapan menargetkan, RX 550 mampu meluncur hingga 500 km dan rampung pada akhir tahun 2012.

Selain menggarap RX 550, LAPAN dan Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) lainnya juga sedang merancang roket kendali yang mandiri. Salah satunya diberi nama Roket Kendali Nasional atau RKN 200.

RKN 200 akan menjadi roket tingkat empat yang berfungsi sebagai roket pengorbit satelit. RKN 200 sedang dirancang untuk memiliki tujuh kali kecepatan suara atau 7 Mach.(Jkgr)

LAPAN akan Uji Statik Roket RX-550

 Uji Statis RX 550
Roket pengorbit satelit berdiameter 550 mm atau 0,55 meter telah berhasil dirancang bangun Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Uji Statik roket RX-550 ini akan dilaksanakan akhir Januari setelah menjalani uji struktur.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Adi Sadewo Salatun di Jakarta, Senin (3/1), menjelaskan, pembuatan RX-550 ini melibatkan PT Krakatau Steel dalam tahap rekayasa. Keterlibatan industri strategis ini dalam pencetakan moncong roket atau nozzle.

Sementara itu, fabrikasi propelan dari material padat ini dilakukan bertahap, yaitu dengan mempertimbangkan ukurannya yang relatif besar, keterbatasan fasilitas yang dimiliki Lapan, dan keamanan proses.

Sutrisno, Kepala Bidang Propelan LAPAN, mengatakan, pembuatan propelan yang terdiri dari delapan bagian ini dimulai September 2010. Setiap bagian atau segmen itu kemudian disatukan menjadi bentuk yang utuh.

Pemeriksaan struktur roket RX-550 yang dipamerkan dalam Indo Defence di Jakarta, November lalu, menurut Adi, dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional yang memiliki fasilitas non destructive test (NDT). Pengetesan ini untuk memeriksa hasil pengelasan pada sambungan setiap segmen dan kemungkinan adanya keretakan pada struktur.

Rencana uji statik RX-550 pada akhir Januari 2011 ini, menurut Deputi Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata, mundur dari jadwal semula, pertengahan Desember lalu. "Pengunduran ini menyesuaikan pergeseran pelaksanaan NDT menggunakan sinar X. Kalau uji sinar X hasilnya baik, baru dilakukan uji statik," ujar Soewarto.

Di Kabupaten Garut

Persiapan peluncuran roket RX-420. (Foto: Lapan)
Uji statik akan dilaksanakan di Instalasi Uji Terbang Roket di pantai selatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Jika uji statik ini berhasil, tahap selanjutnya adalah mempersiapkan RX-550 untuk uji terbang. Sebelum itu, data uji statik akan dimasukkan dalam simulasi komputer untuk melihat sistem aerodinamika roket. "Dalam simulasi, roket harus mampu masuk ke orbit pada ketinggian 200 kilometer," ungkap Adi.

Sistem simulasi komputer ini akan dilaksanakan bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia yang memiliki fasilitas tersebut.

Apabila pengujian ini tidak menunjukkan hasil yang memadai, diameter roket harus ditingkatkan. Selain itu juga perlu dilakukan peremajaan sistem pencampur propelan atau mixer untuk dapat membuat bahan bakar roket yang dapat meluncur hingga ketinggian di atas 230 kilometer. Dalam mempersiapkan peluncuran roket ini, LAPAN juga akan bekerja sama dengan PT Pindad. (YUN/Kompas)

2014, LAPAN Orbitkan Empat Satelit

Jakarta — Salah satu sasaran utama kinerja Lapan pada 2011 ialah peluncuran satelit Twinsat (Lapan-A2 dan Lapan-Orari) untuk mitigasi bencana. Pengembangan satelit terus berlanjut, hingga pada 2014, Lapan akan memiliki empat satelit buatan sendiri meskipun dalam skala kecil. Selama ini, 10 satelit milik Indonesia masih buatan luar negeri.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Lapan Dr. Adi Sadewo Salatun, M. Sc. saat rapat kerja Menteri Riset dan Teknologi serta jajaran Kepala Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) dengan Komisi VII DPR RI di Ruang Rapat Komisi VII, Gedung Nusantara Lantai I, Senin (17/1).

Selain pengembangan satelit, Lapan juga bersiap melakukan studi kelayakan sarana dan prasarana stasiun peluncuran di Pulau Enggano, menguji statik roket RX-550, serta membahas RUU Keantariksaan dengan DPR. Roket RX-550 saat ini sedang dalam proses pengujian bekerjasama dengan BATAN dan dijadwalkan selesai paling lambat Maret 2011. “Jika semuanya telah siap, maka peluncuran RX-550 merupakan peluncuran roket paling besar sampai saat ini,” ujar Adi.

Dalam rapat tersebut, Kepala Lapan menyampaikan realisasi program utama Lapan 2010. Untuk bidang roket, telah dilakukan integrasi dan pengujian subsistem satelit mikro Lapan-A2 dan Lapan-Orari. Di bidang roket, Lapan mengembangan kemampuan roket nasional untuk keperluan riset ilmiah.

Kemudian, di bidang penginderaan jauh (inderaja), Lapan mengembangkan model pemanfaatan data satelit inderaja untuk pengembangan wilayah, pemantauan dan inventarisasi sumber daya alam dan lingkungan, serta operasi pelayanan informasi mitigasi bencana (Simba).

Sementara itu di bidang sains antariksa dan atmosfer, Lapan menyuplai model atau data akurat tentang cuaca antariksa, prosedur standar peringatan dini dan mitigasi cuaca antariksa, serta layanan informasi pemanfaatan sains atmosfer. Selain itu, Lapan mendukung penguatan kelembagaan iptek dan regulasi kebijakan pengembangan kedirgantaraan nasional (harmonisasi RUU Keantariksaan).(Humas LAPAN)

Tuesday, September 4, 2012

Berkualitas Internasional, Arab Saudi Akan Beli Senjata Indonesia

 "Mereka tertarik senjata kita karena kualitasnya internasional."

Kualitas persenjataan buatan dalam negeri mulai menarik bagi negara-negara lain. Irak sudah hampir pasti memborong senjata dan peralatan militer buatan Indonesia.

Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin, menyatakan, tak hanya Irak, beberapa negara lainnya seperti Iran, Uganda, Kongo dan Arab Saudi juga tertarik untuk membeli senjata buatan Indonesia.

"Mereka tertarik dengan senjata kita karena kualitasnya sudah internasional," ujar Hartind kepada VIVAnews, Senin 3 September 2012.

Sama dengan Irak, Arab Saudi awalnya akan membeli senjata Senapan Serbu 2 atau SS2 yang diproduksi oleh PT Pindad. Utusan dari negara calon pembeli sudah mengunjungi langsung PT Pindad.

"Irak bisa jadi tahun ini realisasinya. Kalau Arab Saudi mudah-mudahan tahun depan. Saat ini sudah ada pembicaraan-pembicaraan," katanya.

Kualitas senjata buatan Indonesia, lanjut Hartind, juga dibuktikan dengan prestasi Tentara Nasional Indonesia dalam beberapa lomba menembak internasional.

Seperti diantaranya dalam Lomba Tembak Internasional Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2012. Di ajang ini, TNI Angkatan Darat meraih juara umum dengan mengalahkan negara-negara besar seperti, tuan rumah Australia, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Selandia Baru.







Ajang AASAM 2012 juga diikuti oleh negara-negara ASEAN seperti, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Jepang menjadi peserta baru pada AASAM kali ini. Lebih dari 300 petembak ikut serta mewakili militer masing-masing negara.

"Kita sudah mengalahkan anggota-anggota NATO dalam lomba-lomba tembak. Karena kualitas senjata kita juga yang menentukan," katanya.

Oleh karena itu, dia menyambut baik ketertarikan negara-negara tetangga untuk membeli senjata produksi dalam negeri.


Thursday, August 30, 2012

FOTO KRI Klewang 625 Trimaran, Kapal Rudal Indonesia









Ilustrasi Trimaran

Spesifikasi KCR Trimaran :

Panjang : 62.53 m
Berat : 53.1 ton
Kec : 16/30 knots

Didesain sebagai kapal modern tiga lambung berbahan komposit dengan kecepatan tinggi yang ekonomis di laut dan berpeluru kendali C-705. Merupakan kapal trimaran berpeluru kendali pertama TNI.
 TNI AL Luncurkan Kapal Cepat Rudal Trimaran

KALIPURO – Proses pembuatan kapal cepat rudal (KCR) Trimaran milik TNI AL sudah rampung. Kapal canggih yang diproduksi PT. Lundin Industry Invest, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi itu akan diluncurkan Jumat besok (31/8).

Dalam peluncuran armada baru TNI AL yang diberi nama KRI Klewang itu akan hadir sejumlah perwira tinggi dari mabes TNI AL. Kapal KCR Trimaran merupakan pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI untuk memperkuat armada TNI AL.

President Director PT. Lundin Industry Invest, Mr. John Lundin menjelaskan, KRI Klewang memiliki desain termutakhir yang dibuat berdasar model Trimaran atau kapal berlunas tiga. Bahan dasar yang digunakan adalah composite material dan memiliki panjang 63 meter.

KRI Klewang, jelas Lundin, tergolong salah satu dari kapal terbesar berlunas banyak yang dibuat di kawasan Asia Tenggara. Dengan bentuk lunasnya yang radikal, kapal itu dapat melaju dengan kecepatan maksimum lebih dari 30 knots. “Kapal ini dapat menembus ombak lautan sampai setinggi enam meter,” jelas Lundin.

Salah satu kemampuan KRI Klewang yang diunggulkan dan dibanggakan adalah stealth. Kapal ini didesain khusus agar tidak terdeteksi oleh radar manapun. Sebab, desain KRI Klewang unik dan bahan dasarnya adalah carbon fiber.

Carbon fiber memiliki karakteristik unik, yaitu tidak menginduksi panas dan lebih kuat daripada baja tapi lebih ringan. “KRI Klewang layak menjadi kebanggaan rakyat Indonesia sebagai salah satu alutsista andalan yang diproduksi industri pertahanan nasional,” tegas Lundin bangga.

Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi, Letkol Muhammad Nazif menambahkan, KRI Klewang merupakan satu-satunya kapal cepat combatan TNI AL yang menggunakan bahan composite. Tugas utama yang akan diemban kapal itu adalah sebagai kapal cepat rudal yang mampu melaksanakan operasi keamanan laut dan tempur laut. “Tugas tambahannya, patroli keamanan laut, pengamanan sumber daya alam dan objek vital di laut,” katanya.

KRI Klewang bisa melaksanakan patroli keamanan laut dengan kecepatan ekonomis dan operasi terus-menerus di daerah selama 10 hari. Selain itu, KRI Klewang juga mempunyai kecepatan tinggi dan mampu melaksanakan operasi laut gabungan dengan berbagai tipe kapal lain. “Kapal itu juga meiliki peralatan modern dalam rangka klasifikasi target sasaran, observasi, dan identifikasi,” jelasnya.(afi/c1/aif)(Radar Banyuwangi)

Sumber Lundin Fan Page
diposkan Audryliahepburn, Kenyot dan Formil Kaskus

Sunday, August 12, 2012

Pesawat N-250 adalah 1 dari 5 Tonggak dan Bukti Sejarah RI

N250 IPTN
BANDUNG - Mantan Presiden RI, BJ Habibie, mengenang pesawat perdana buatan Indonesia, N-250. Penerbangan perdana pesawat itu disebut Habibie sebagai satu dari lima tonggak penting sejarah Indonesia.

Habibie menyebut lima tonggak sejarah bangsa Indonesia, yakni Budi Utomo (20 Mei 1908), Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), dan tonggak keempat, penerbangan perdana pesawat paling canggih N-250 pada 10 Agustus 1995. Profesor jebolan universitas di Jerman itu melanjutkan tonggak kelima ialah Reformasi (21 Mei 1998).

Hal tersebut disampaikan Habibie pada penutupan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Jumat kemarin.

Pesawat N-250, lanjut mantan Menristek itu, merupakan hasil karya Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang kini bernama PT Dirgantara Indonesia.

“Terbangnya N-250 merupakan prestasi nyata bangsa Indonesia di bidang teknologi dirgantara,” tegasnya.

Tanggal penerbangan perdana N-250 pada 17 tahun lalu yang kemudian dicanangkan sebagai Harteknas.





Sedangkan dalam konteks penerbangan sipil, pesawat N-250 mencatat sejarah tersendiri yakni sebagai pesawat turbocorp pertama dengan sistem kendali teknologi fly by wire.

Terciptanya N-250, sambung dia, mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu unjuk gigi. Indonesia dipandang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Habibie mendorong kepada semua pihak serta pihak kampus untuk semangat untuk mengembangkan diri. “Secara kualitas kita mampu bersaing dengan bangsa lain,” pungkasnya.(ton)

(Okezone)

Friday, August 10, 2012

Inovasi Baru : Mahasiswa Ciptakan Kompor Tanpa Api

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/08/09/2256183p.JPG
Kompor Magnet alias Komnet(Foto Yunanto Wiji Utomo)
BANDUNG, KOMPAS.com — Mahasiswa jurusan Teknik Elektro Universitas Pendidikan Indonesia menciptakan kompor inovatif. Kompor itu bukan saja lebih efisien, melainkan juga mudah, aman, dan nyaman untuk digunakan.

Ganjar Candra Sumindar, mahasiswa yang menciptakan kompor ini, menamai inovasinya Komnet alias Kompor Magnet. Ia mempertunjukkan hasil karyanya di Technopreneurship Island di RITech Expo, yang digelar di Sasana Budaya Ganesha, Bandung, 8-10 Agustus 2012.

Ditemui Kompas.com dalam pameran pada Kamis (9/8/2012), Ganjar mengatakan bahwa kompornya memiliki beberapa kelebihan. Salah satunya, kompor ini tidak menghasilkan api sehingga lebih aman digunakan. "Kalau kita memanaskan dengan peralatan masak dari logam, kompor ini tidak akan membuat bagian pegangan alat masak itu panas," urainya.

Dalam pameran, Ganjar menunjukkan kertas pun jika ditaruh di atas kompor tak akan terbakar ataupun menjadi panas. Menurutnya, kompor ini hanya bisa memanaskan material yang bersifat magnetik. Kompor ini juga aman. Begitu peralatan masak tak ditaruh di atas kompor, maka kompor otomatis akan mati.






Terdapat dua jenis pemanasan, yakni panas dan hangat, serta masih bisa diatur sesuai kebutuhan. Ganjar menguraikan, dasar dari pembuatan kompornya adalah induksi elektromagnetik. Listrik dihantarkan ke dalam lilitan kabel di dalam kompor sehingga tercipta induksi elektromagnetik. Induksi inilah yang akan menghasilkan panas.

Bagian kompor terbuat dari bahan logam. Sementara itu, tungku terbuat dari bahan keramik yang dipilih karena cepat panas. Ganjar membuat dua pilihan kompor, satu dan dua tungku. Komnet buatan Ganjar diklaim hemat daya dan murah. "Dayanya hanya 300 Watt. Harganya kalau sudah diproduksi massal untuk 1 tungku Rp 700.000 dan yang 2 tungku Rp 1,5 juta. Kita sudah sempat uji coba ke UKM," katanya.

Ganjar mengatakan, inovasi pada kompor ini adalah membuat sesuatu yang sebelumnya dianggap merugikan menjadi menguntungkan. "Induksi magnet menyebabkan panas. Ini merugikan karena dianggap kehilangan listrik. Di sini, panas yang dihasilkan dimanfaatkan," paparnya.

(Kompas)

Saturday, August 4, 2012

Siswa Semarang Mengubah Asap Rokok Menjadi Oksigen

Ulah Dua siswa SMA Negeri 3 Semarang ternyata tidak maen-maen. Mereka menoreh prestasi pada International Exhibition for Young Inventors (IEIY) 2012 di Bangkok, Thailand pada 28 Juni – 1 Juli lalu.  Mereka menciptakan sebuah alat yang mampu Mengubah Asap Rokok Menjadi Oksigen.

“Alat perubah Asap Rokok Menjadi Oksigen itu dinamai T-Box Application to Reduce the Danger Impact of CO dan CO2 in Smoking Room,” ungkap Hermawan Maulana, salah satu siswa pemenang IEIY 2012 dari SMAN 3 Semarang.

Hermawan mengatakan, ide tersebut datang lantaran kegelisahannya melihat para perokok yang semakin banyak. Untuk itulah, dia bersama timnya berulah membuat alat untuk memfilterkan karbondioksida (CO2) menjadi oksigen.

“Kendati sudah banyaknya disediakan smoking room diberbagai tempat-tempat umum, seperti swalayan dan lainnya, Herman melihat tempat tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Karena, dengan banyaknya jumlah perokok maka ruangan tersebut kemudian menjadi penuh asab rokok. Jadi, para perokok cenderung memilih merokok di luar dan akhirnya mengganggu orang lain,” jelasnya.






Menurut Hermawan, dengan alat tersebut asap rokok yang mengandung CO2 akan diuraikan menjadi oksigen. Dan oksigen itu akan dialirkan kembali pada ruang untuk merokok atau smoking room. Sehingga, para perokok betah dan bisa memanfaatkan secara maksimal ruangan tersebut.

Zihramma Afdi, rekan satu tim dengan Hermawan menjelaskan, alat yang semula disebut “Carbol Application” itu bekerja menghisap asap rokok masuk ke dalam mesin yang sudah dirangkai. “Kemudian, asap rokok tersebut diurai menjadi oksigen, filterisasinya juga meninggalkan karbon. Namun, berbentuk padat yang bisa dimanfaatkan kembali,” paparnya.

Awalnya, rasa minder itu datang ketika penemuan siswa SMAN 3 itu harus beradu dengan hasil penemuan siswa dari berbagai negara. Apalagi, stand yang mereka tempati berdampingan dengan siswa dari Jepang. Namun, alat ciptaan mereka ternyata mengalahkan penemuan- penemuan dari siswa berbagai negara di ajang tersebut.

Sementara, Hari Waluyo, Kepala SMAN 3 Semarang mengaku bangga atas prestasi siswanya. “Mereka berhasil mengalahkan pesaingnya dari China, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Taiwan dan Jepang. “Kedua siswa ini duduk di Kelas XI IPA, mereka bisa menjadi teladan adik-adik kelasnya,” tandasnya.

(Bangka)

Friday, August 3, 2012

Inilah Cara Mengolah Air Gambut Menjadi Air Sehat

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/08/03/1103225p.jpg
Desain IPAG60 (Foto: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/NOVAN)
Oleh NAWA TUNGGAL

Masyarakat di lahan gambut berisiko mengalami gangguan kesehatan karena mengonsumsi air bersifat asam yang bisa membuat gigi keropos. Selain itu, air gambut mengandung zat organik ataupun anorganik yang bisa mengganggu metabolisme tubuh.

Untuk mengatasi masalah itu, periset pada Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ignatius DA Sutapa, merancang instalasi pengolah air gambut menjadi air baku yang sehat untuk dikonsumsi. ”Hasil penelitian kami sudah dimanfaatkan di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Bengkalis, Riau,” kata Sutapa, Kamis (2/8), di Cibinong Science Center LIPI, Cibinong, Jawa Barat.

Saat ini, instalasi pengolah air gambut (IPAG) LIPI diproduksi dengan kapasitas 60 liter per menit. IPAG60 mampu mencukupi kebutuhan air bersih 100 rumah tangga.

Air gambut memiliki derajat keasaman (pH) 2,7- 4. Adapun pH netral adalah 7. Pengolahan air gambut melalui sejumlah tahapan, meliputi koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dekolorisasi, netralisasi, dan desinfektasi.






Air gambut yang berwarna hitam kecoklatan itu mengandung senyawa organik trihalometan yang bersifat karsinogenik (memicu kanker). Selain itu, air gambut mengandung logam besi dan mangan dengan kadar cukup tinggi. Konsumsi dalam jangka panjang bisa mengganggu kesehatan.

 Diendapkan dan disaring

Air gambut diolah dengan cara koagulasi (diendapkan). Koagulan utama yang digunakan adalah alum sulfat. Koagulan ini digunakan dengan variasi konsentrasi hingga 50 bagian per sejuta (ppm), bergantung pada kepekatan air gambut.

Koagulasi menghasilkan endapan yang ditampung dalam bak sedimentasi. Selanjutnya, air dialirkan untuk disaring dengan pasir silika dan antrasit.

Unit filtrasi merupakan saringan pasir cepat. Diameter pasir silika dan antrasit adalah 0,6-2 milimeter.

Komposisi media penyaring disusun berdasarkan tingkat efisiensi proses koagulasi. Media filter memungkinkan terbentuknya biofilm mikroorganisme. Ini yang menguraikan polutan organik air gambut yang dialirkan.

Untuk menghilangkan bau, warna, dan rasa digunakan penyaring karbon aktif. Dengan ukuran partikel karbon aktif relatif kecil, warna air gambut yang pekat dan mengandung asam humat dapat diserap.

Konsentrasi karbon aktif bergantung pada intensitas warna yang akan direduksi. Kemudian dilanjutkan dengan proses netralisasi tingkat keasaman air menggunakan soda ash. Untuk membunuh bakteri patogen di dalam air digunakan kalsium hipoklorit.

 Dipatenkan

Tahun 2012, LIPI menghasilkan tiga unit IPAG60 dan sedang mengerjakan pesanan sebanyak 15 unit. Metode pengolahan air gambut serta kelengkapan peralatannya sedang dipatenkan.

Sutapa mendaftarkan hak paten dengan nomor registrasi P00201000586 ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Klaim patennya mencakup pengolahan air gambut, termasuk ditemukannya kombinasi optimal antara proses netralisasi, pembubuhan karbon aktif, dan koagulasi.

Dari hasil penemuan instalasi pengolah air gambut memungkinkan dibuat sistem pengolah air gambut yang kontinu dengan produktivitas tinggi. Peralatannya bisa dirancang dalam bentuk kecil dan mudah dibawa.

”Pemerintah Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dan PT Sinar Mas di Riau sudah memasang IPAG60,” kata Sutapa.

Sutapa merancang IPAG60 bersama peneliti LIPI lain yang tergabung ke dalam Program Kompetitif LIPI, Energi Bersih Terbarukan, dan Pasokan Air Bersih Berkelanjutan. IPAG60 merupakan instalasi pengolah air gambut menjadi air bersih terbesar di Indonesia saat ini.

Kualitas air produksinya memenuhi standar kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010. Untuk pengolahan dibutuhkan energi listrik relatif rendah. Energi itu bisa diupayakan dari panel surya.

Biaya produksi air bersih mencapai Rp 15.000-Rp 25.000 per meter kubik. Besar biaya bergantung pada kualitas air gambut yang diolah.

Saat ini diperkirakan luas hutan dan lahan gambut yang tersisa sekitar 21 juta hektar. Jutaan penduduk di lokasi itu masih memanfaatkan air gambut untuk keperluan sehari-hari, selain air tadah hujan.

Pemenuhan kebutuhan air bersih di Indonesia masih sangat kurang. Diperkirakan hanya 30 persen dari kebutuhan yang terpenuhi. Bahkan, di kawasan lahan gambut marginal diperkirakan hanya 10 persen penduduk yang memiliki akses air bersih.

Hasil riset pengolah air gambut memberikan sumbangan nyata. Pemanfaatannya sekaligus juga untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium 2015 melalui peningkatan akses terhadap air bersih.

(Kompas)